Senin, 17 November 2008

Ngudo Roso "Salam"

Halo...Apakabar?...
Holo...Sudah Makan?...
Halo...Aman?...
Halo...Agus,...agus,..agus

Ungkapan diatas merupakan pertanyaan yang mengungkapkan bagaimanakah keadaan kita, bisa saja menanyakan khabar karena lama tidak bertemu kemudian bisa saling cerita mengenai kita sekarang. Kebiasaan ini menjadi standar awal memulai/ membuka pembicaraan yang membudaya di Indonesia.
Dulu saya sempat akrab dengan ekpatriat yang berasal dari India, untuk mengucapkan salam "Halo Apakabar " dia harus belajar...kalimat yang sering dia ucapkan bila bertemu..."Halo Sudah Makan?" Saya sedikit berfikir, apakah budaya disana menanyakan salam dengan menanyakan sudah makan itu dilatar belakangi banyak manyarakat yang kelaparan sehingga setiap ketemu Makan merupakan prioritas utama?... (ini oponi pribadi tanpa maksud merendahkan masyarakat India). Atau Mungkin bila di Palestina atau di jalur Gaza salam yang sering muncul bila ketemu kawan pertanyaannya "Halo...Aman?", hal ini dilatar belakangi pergolakan di sana sehingga prioritas utama adalah keamanan.
"Halo Agus" Klo ini penggalan iklan salah satu operator seluler di negeri kita, menggambarkan bahwa telepon ke luar negeri sekarang lebih murah.

Sebagai contoh lain; Tung Dasem Waringin memiliki salam "Dahsyat", atau Mario Teguh dengan "Manusia Super", bahkan Pak de saya salamnya "Nyuwun Sewu". Anak-anak muda mengacungkan 2 jari "Salam Peace", Sebagian penggemar musik planet, trash membanggakan 3 jari "salam metal". Masih ingat Pak Ogah?.. salamnya "Cepek Dulu dong", karena perkembangan jaman nilai uang seratus nilainya turun harus ditingkatkan ntarifnya menjadi
"Gopek/Gojing Dulu dong" .... Pak Haji atau kaum muslim selalu ber uluk salam " Assalum'alaikum"....
Ponakan saya yang kasmaran sama rekan sekelasnya, salamnya membuat berbunga-bunga "Salam Manis", Salam Sayang", "Salam Rindu" dan "salam Kompak"
Ada salam yang lain yang mau di tambahkan?

Salam juga merupakan salah satu senjata Marketer 3S (Senyum, sapa, salam) untuk menjaring custome/konsumen/ Calon Nasabah. Bahkan Salam sebagai bagian dari (Corporate Culture)
budaya perusahaan yang harus di lestarikan. Coba Telepon ke Perusahan yang menerapkan budaya kerja, operator/ penjawab telepon akan terdengar salam yang khas.

Dengan spirit yang sama...Salam merupakan bentuk harapan yang harus diwujudkan meski lewat ekspresi
Saya mengucapkan salam bila ditanyakan Apakabar?....
jawabnya....LUAR BIASA,

bahkan Yel...yel penyemangat dapat menambah Energi yang tidak terbantah
MULUS PASTI BISA,
MULUS HARUS BISA,
MULUS RUAR BIASA...(Saking Luar Biasanya)


Salam, bisa di sampaikan bila bertemu dengan teman sejawat/ rekan kerja, atasan maupun customer kita "Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam Pak/ Bu!?". Salam saudara kita dari batak "Horas"..., dari Sunda "Punten" dll.
Jadi Ingat Rekanku dulu bila Telepon belum diangkat salamnya " Halo!, hola!, haol!, hoal, laho!," kalimat Halo di bolak balik sampai di tutup sendiri teleponya. Pernah juga suatu ketika atasan yang memiliki budaya berbeda, marah di telepon. pasalnya saat mencari rekan sejawat yang di butuhkan si Bos sulit menghubunginya, ketika mencari di ruang kerja dengan phone yang menjawab dengan ramah "Halo Selamat siang?!".
Dengan nada marah berucap "Tidak ada selamat, Pagi/ Siang/ Sore/ Malam" Saya mau si S menghadap saya! brak...tutup telepon.
Ada juga tidak Siang/ Sore/ Malam, setiap waktu salamnya "selamat pagi" hal ini untuk membuat semangat karyawan bahwa pagi identik dengan produktivitas. Tapi Jangan salah...., Tetangga saya Produktivitasnya malah malam hari....he..he...la gimana maunya ingin punya anak lagi sih...Atau kawan saya?...hari kerja Pagi s/d sore ngantor, malam internetan dirumah/ warnet main forex dan mengelola inetrnet marketing.

Jangan karena ikut Seminar, masuk ke Camp-camp Motivasi, dan seolah-olah menemukan Jalan hidup kita bahkan menjadi pilihan hidup dan merubah menjadi lebih baik. belum tentu...!?
Saya salah satu orang yang percaya bahwa sukses dapat di poroleh karena sikap positif dan hubungan antar manusia dan 15%nya karena keahlian teknis. Sebagai bukti sikap positif saya sungguh beruntung, di mana beruntung bertemu dengan orang-orang yang membuat kita lebih baik...
Ya dengan tidak melewatkan belajar....seminar, Motivasi, dan Mentoring....he..he...

Salam luar biasa!!!

Jumat, 03 Oktober 2008

Deja vu

Sulit untuk, mengungkapkan apa yang sedang saya pikirkan saat ini, dimana tidak terasa sudah menapaki perjalanan dari Peusahaan satu ke perusahaan yang lainya. Deja vu mungkin kata yang tepat untuk mewakili gejolak yang ada dalam benak ini. Apa yang sudah dapat ditorehkan dari perubahan hidup yang ingin dicapai?....
banyak catatan yang harus dimaknai dimana keniscayaan itu akan terwujud.
Pepatah ”Roda itu berputar” Sering terdengar dan tidak asing ditelinga kita, dan ternyata memang kenyataan didalam kehidupan ini kadang bisa diatas dan terkadang bisa dibawah (kapan kita bisa di porosnya?). Demikian juga dalam profesi hidup, ada pedagang sukses yang, dengan tiba-tiba harus memulai lagi dari nol…bahkan minus. Ada yang dari pegawai bank putar haluan menjadi programmer ataupun sebaliknya. Yang programmer ingin menjadi pengusaha, bahkan 2 profesi tersebut sekaligus disandang. Yang paling aktual Bank Tertua di Wall Street dan merupakan perusahaan sekuritas terbesar ke-4 AS akhirnya harus rontok...dll. Dari peristiwa-peristiwa diatas sebenarnya ada sebab atau alasan yang minimal ada penjelasan sehingga dapat diterima dalam pemikiran kita, sebagai gambaran
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya dalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tingkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini. Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software.
Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat. Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules. Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/ tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing.
Orang meninggalkan manajer/ direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules. Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/ direktur Anda terlebih dahulu.
Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan
mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas.
Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti-biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu. Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu.
Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan. Demikian pesan Azim Premji.
Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan,...atau rekan kerja)?

Link:Orang Brengsek Guru Sejati

Senin, 08 September 2008

Belajar Dari Binatang

Burung bangau itu dikisahkan sedang gelisah menunggu kehadiran belibis yang tak kunjung terlihat dari pintu surga. Bangau heran, mengapa belibis tidak seperti dirinya yang bisa dinyatakan masuk surga. Padahal belibis adalah sahabatnya yang paling baik. Belibis berperan mengubah bangau menjadi sosok yang canggung dan tidak cekatan menjadi sosok yang terampil dalam memburu ikan disawah dan rawa. Belibis telah mengubah dan menyelelamatkan hidup bangau.

Saat itu belibis mengajarkan bangau untuk mengangkat satu kakinya bila hendak berburu ikan. Menurut belibis, satu kaki bangau didalam air itu akan menarik perhatian ikan-ikan sehingga mereka penasaran dan mendekati bangau. Dengan begitu, bangau akan mudah mendapatkan ikan karena justru para ikan itu yang mendekati bangau. Saran belibis menjadi jalan bagi bangau untuk bisa makan berkecukupan sepanjang hidupnya. Lalu mengapa belibis yang telah sangat baik hati membukakan jalan bagi bangau untuk hidup lebih baik itu gagal masuk surga?


Sebelum menjawab pertanyaan itu, ....perlu kita periksa kembali sahabat
Persahabatan yang pernah kita rajut, apakah masih terbentang disana? Atau kita telah melupakan-nya jauh sebelum ini. Bekerja keras dan cerdas untuk meniti jalan karier bukan berarti memisahkan kita dari persahabatan. Beberapa orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi, selalu mengerjakan apapun sendiri. Memang pohon yang menjulang tinggi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh semak-semak. Demikianlah hidup yang ingin anda jalankan?.

Bukan, jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita, mari binalah persahabatan kita. Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan.

Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Dan sahabat kita yang terdekat adalah keluarga kita. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban kita, karena didalam persahabatan tidak ada perhitungan. Disana kita belajar menghindari hal-hal yang tidak kita setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang kita sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah kekuatan. Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman, matipun sendiri.

Oh iya, burung bangau tadi akhirnya tidak bertemu dengan belibis di surga. Malaikat menjelaskan, meskipun mereka tau bangau selalu mendoakan belibis agar selalu berada dalam kebaikan, namun doa bangau saja tidaklah cukup. ”Doa bangsa ikan yang banyak menjadi korban akibat tidakan belibis terbukti jauh lebih banyak dan lebih mudah dikabulkan karena mereka terzalimi,” ujar malaikat. Clink!

"Manusia yang paling lemah ialah orang yang tidak mampu mencari sahabat, namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak sahabat tetapi menyia-nyiakanya."

Sebagian disari, dari buku Clink Your Live
Penulis: Tauhid Nur Azhar
Perlu diketahui saya bukan marketing atau terafiliasi buku diatas

Sabtu, 06 September 2008

Change or Die!

Niat saja tidak cukup, butuh keberanian untuk mewujudkan perubahan sehingga kita bisa mendapatkan tujuan yang kita inginkan. perubahan memang kerapkali menyakitkan, karena kita harus melepaskan diri dari zona kenyamanan. Di pihak lain mereka yang bersikukuh untuk tidak berubah, tidak fleksibel, akan tergilas oleh kehidupan.
klo Bung Dedy Mizwar bicara "Bangkit" dalam iklan TV, Kita bisa konotasikan sebagai "Perubahan"
Perubahan....itu susah...
susah melihat orang susah, senang melihat orang senang
.......
Keberhasilan kita dibatasi oleh persepsi kita sendiri. Jika kita merasa sebagai average people tentu pencapaian kita juga sekedar rata-rata. Sebaliknya jika Kita merasa hanya langit yang mampu membatasi pencapaian, maka hal-hal besar akan kita raih.
Imposible is nothing



Jumat, 22 Agustus 2008

Salam Sejahtera lewat di Karya

Weit......Lama saya tidak nulis blog,...rasanya khangen juga untuk membuat tulisan lewat media blog....
Semoga dapat intensif kembali untuk menuangkan perjalanan hidup ini,
dan semoga dapat berguna bagi siapa saja...

Banda Neira

Banda Neira, Kab. Maluku Tengah Prov. Maluku Jakarta, Perjalanan Udara dengan GIA dari Bandara International Soekarno-Hatta Jakarta ke Ambo...